EMOSI

Psikologi Pendidikan

Alamat blog: http://dininurfitria.blogspot.com/
Nama : Dini Nurfitria
NIM   : 11140163000048
Kelas  : 2b
Universitas :
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

Pengertian emosi

Mengekspresikan emosi
Menurut English an English, emosi adalah “complex feeling state accompained by characteristic motor and glanular activies”. (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris. Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam) (Yusuf, 2012).
 
Faktor- faktor yang Mempengaruhi Emosi

1.      Usia
Semakin bertambahnya usia, tingkat emosi yang dimiliki pun akan semakin lebih matang dan individu akan lebih dapat menguasai dan mengendalikan emosinya. Contoh emosi seorang anak dengan orang dewasa pasti berbeda, jika anak-anak tidak suka pasti ia akan meluapkannya dengan marah, atau nangis. Tapi, seorang yang sudah dewasa ketika ia tidak suka terhadap sesuatu, ia akan membicaraknnya dengan baik-baik. Jadi semakin bertambahnya usia kita, maka kita harus bisa mengontrol emosi yang kita miliki secara lebih matang dan lebih stabil.
(ayat menahan amarah dan emosi)
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).
 Artinya: jika mereka disakiti orang lain yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan mereka (melampiaskan kemarahan), akan tetapi mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka. Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, bahwa kita harus mengendalikan emosi kita. 
 
2.      Perubahan fisik dan kelanjar
Perubahan fisik dan kelenjar akan menyebabkan terjadinya perubahan pada kematangan emosi seseorang. Hal itu sesuai dengan  anggapan bahwa remaja adala periode”balai dan tekanan”, emosi remaja meningkat karena adanya perubahan fisik dan kelenjar.

3.      Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua akan menentukan pola perilaku anak terhadap orang lain dalam lingkungannya, karena seorang anak berinteraksi pertama kali di dalam keluarganya. Cara orang tua memperlakukan anak-anaknya akan memberikan akibat permanen dalam kehidupan anak.

4.      Lingkungan
Lingkungan adalah faktor yang paling sering dipaparkan, kebebasan dan kontrol yang mutlak dapat menjadi penghalang dalam pencapaian kematangan emosi remaja, apalagi seorang remaja lebih sering berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, lingkungan di sekitar kehidupan remaja yang mendukung perkembangan fisik dan mental memungkinkan kematangan emosi dapat tercapai.

5.      Jenis kelamin
Ternyata salah satu faktor yang mempengaruhi emosi yaitu jenis kelamin. Laki-laki dikenal lebih berkuasa jika dibandingkan dengan perempuan, dalam Al-Qur’an pun dijelaskan: 
Mereka memiliki pendapat tentang kemaskulinan terhadapdirinya sendiri sehingga kurang mampu mengekspresikan emosi seperti yang dilakukan oleh perermpuan. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki cenderung memiliki ketidakmatangan emosi jika dibandingkan dengan perempuan.
 
Perkembangan Moral, Nilai, dan Sikap 
  Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun. Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan akhlak, kewajiban dan sebagainya (Purwadarminto, 1957). Dalam moral sudah diatur segala perbuatan yang dinilai baik yang perlu dilakukan, dan perbuatan yang dinilai buruk yang perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan baik dan buruk. Dengan demikian, moral meruapakan kendali dalam bertingkah laku. Sikap secara umum diartikan sebagai kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal (Mappiare, 1982). Sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seseorang. Dapat diramalkan tingkah laku apa yang dapat terjadi dan akan diperbuat jika telah diketahui sikapnya.  
  Keterkaitan antara nilai, moral, sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengalaman nilai-nilai. Dengan kata lain, nilai-nilai perlu diketahui dan dikenal terlebih dahulu, kemudian dipahami oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai dimaksud.  
Teori Perkembangan 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
 
a.      Perkembangan Kognitif Umum
Penalaran moral yang tinggi penalaran yang dalm mengenai hukum moral dan nilai-nilai luhur seperti kesetaraan, keadilan, hak-hak asasi manusia memerlukan refleksi yang mendalam mengenai ide-ide abstrak. Sebagai contoh: anak-anak yang secara intelektual berbakat pada umumya lebih sering berpikir tentang isu moral dan bekerja keras mengatasi ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Meski demikian, perkembangan kognitif tidak menjamin sepenuhnya terhadap perkembangan moral.

b.      Penggunaan Ratio dan Rationale
Anak-anak lebih cenderung mendapatkan dalam perkembangan moral ketika mereka tidak memiliki kerugian fisik dan emosional yang ditimbulkan perilaku-perilaku tertentu terhadap orang lain.  

 
c.    Isu dan Dilema Moral. 
   Dalam teorinya mengenai perkembangan moral, Kohlberg menyatakan bahwa anak-anak berkembang secara moral ketika mereka menghadapi suatu dilema moral yang tidak dapat ditangani secara memadai dengan menggunakan tingkat penalaran moralnya saat itu dengan kata lain, ketika anak menghadapi situasi yang menimbulkan disequilibrium. Upaya untuk membantu anak-anak yang menghadapi dilema semacam itu, Kohlberg menyarankan agar guru menawarkan penalaran moral satu tahap di atas tahap yang dimiliki anak saat itu. Kohlberg (1969) percaya bahwa dilema moral dapat digunakan untuk memajukan tingkat penalaran moral anak, tetapi hanya setahap demi setahap. Dia berteori bahwa cara anak-anak melangkah dari satu tahap ke tahap berikut ialah dengan berinteraksi dengan orang-orang lain yang penalarannya berada satu atau paling tinggi dua tahap di atas tahap mereka.  
d.    Perasaan Diri. 
  Anak-anak lebih cenderung terlibat dalam perilaku moral ketika mereka berpikir bahwa sesungguhnya mampu menolong orang lain dengan kata lain ketika mereka memiliki pemahaman diri yang tinggi mengenai kemampuan mereka membuat suatu perbedaan (Narfaez & Rest,1995). Lebih jauh, pada masa remaja, beberapa anak muda mulai mengintegrasikan komitmen terhadap nilai-nilai moral terhadap identitas mereka secara keseluruhan (M.L.Arnold, 2000; Biyasi, 1995; Nucci, 2001). Mereka menganggap diri mereka sebagai pribadi bermoral dan penuh perhatian, yang peduli pada hak-hak dan kebaikan orang lain. Tindakan altruistic dan bela rasa yang mereka lakukan tidak terbatas hanya pada teman-teman dan orang-orang yang mereka kenal saja, melainkan juga meluas ke masyarakat.
 
Upaya Pengembangan Moral, Nilai, dan Sikap Serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan  
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral, dan sikan remaja adalah:

1.      Menciptakan Komunikasi
2.      Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi

 
Emosi saya yang menggambarkan hari ini adalah bingung, frustasi, tertekan, kesal, tapi ada sedikit semangat, senang karena bertemu dengan teman-teman, optimis dapat menyelesaikan masalah yang terjadi, dan harus bahagia. Jika ditanyai “apakah kita bisa menggambarkan emosi setiap hari, setiap saat?” jawabannya adalah ”terkadang saya bisa, dan terkdang saya tidak bisa menggambarkan emosi yang saya alami” hal itu, karena keadaan yang bisa berubah-ubah dan tidak bisa di prediksi. Emosi terkait dengan perasaan senang, kita bisa mengepresikannya dengan sebuah senyuman, namun jika tersenyum saja dilarang, hal itu akan sangat berbahaya bagi kita. Karena semua orang akan terlihat menyeramkan, tidak akan terjadi suasana kehangatan antara satu sama lain, akan memicu perkelahian dan permusuhan, dan akan menjadi beban bagi manusia sendiri. Lalu, kita berandai-andai bagaimana jika manusia bisa terbang.
 manusia bisa terbang
http://lifestyle.kompasiana.com
Jika manusia bisa terbang adalah hal yang menyenangkan, tapi dampak yang terjadi pun akan timbul. Pertama tidak akan adanya interaksi antar sesama, semua orang tidak akan membutuhkan satu sama lain, karena kita bisa pergi kemana saja yang kita inginkan. Manusia diberi emosi pasti ada manfaatnya, menurut Al-Qur’an : 
Intinya, emosi untuk mengenai jati diri seseorang, memahami bagaimana karakter seseorang, dan agar hidup ini pun lebih berwana tidak monoton. 
   Bagaimana cara menimbulkan kepekaan seseorang,contoh permasalahannya seperti ini, dalam sebuah keluarga yang beranggotakan 7 orang anak dan orang tua mereka. Setelah beranjak dewasa, mereka tinggal terpisah satu sama lain dan sudah sukses semua. Suatu ketika ibu mereka sakit, akan tetapi perhatian anak sulung menyikapi kondisi tersebut sangat kurang, apalagi ia bertempat tinggal sangat jauh dari keluarganya membuat ia jarang menjenguk ibunya. Masalahnya adalah kurangnya perhatian anak sulung tersebut baik secara finansial atau material. Sehingga menimbulkan kesenjangan dalam keluarga. Adik-adiknya beranggapan ia tidak peduli dengan ibunya yang sakit. Lalu bagaimana menimbulkan kepekaan anak sulung tersebut? 
  Pertama, kita sebagai seorang saudara (posisi keluarga) jangan dahulu memandang seseorang atau menilai seseorang dari luarnya saja. Apalagi kepada saudara sendiri, mungkin ia bersikap seperti itu karena sangat sibuk pekerjaannya, dan jarak yang jauh pun bisa menjadi salah satu faktor. Kedua, kita bisa membicaraknnya baik-baik dengannya. Dan mencari solusi bersama. Mungkin ia pun beranggapan sudah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang anak. Dan sebagai seorang adik, kita harus berani menasehati atau memberikan pengertian bahwa perhatiannya kurang maksimal.  
Kesimpulan 
  Menurut English and English emosi adalah suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris. Sedangkan sarlitowirawan sarwono berpendapan bahwa emosi merupakan setipa keadaan pada diri seserorang yang isertai warna afektif baik paa tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam). Adapun factor yang mempengaruhi emosi yaitu usia, perubahan fisik dan kelenjar, pola asuh orang tua, lingkungan, dan jenis kelamin. Teori perkembangan moral terbagi 2, yaitu teori Piaget dan teori Kohlberg. Faktor yang mepengaruhi perkembangan moral adalah perkembangan kognitif umum, penggunaan ratio and rationale, isu dan dilema moral, perasaan diri. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral,dan sikap remaja yaitu menciptakan komunikasi dan menciptakan lingkungan yang serasi. 

DAFTAR PUSTAKA

   
Sunaro. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka Cipta. 
Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosda Karya   Bandung. 
Paradigma Moral. Http://staff.uny.ac.id. Diakses pada hari Jumat, 24 April 2015 Pukul 14.28 WIB.  
 

Komentar

Postingan Populer